Sabtu, 16 Maret 2019

Daftar Kolektif Nilai Hasil Ujian Try Out 1, 2 dan Ujian Praktek

Daftar Kolektif Nilai Essay TO 2 MIMA Tapos 2
Tahun Pelajaran 2018-2019

* Isian nilai, adalah nilai murni sebelum pembobotan

Download Daftar Kolektif Nilai TO 2 d sini [ Download
Download Daftar Kolektif Nilai TO 1 di sini [ Download ]
Download Daftar Kolektif Nilai Ujian Praktek di sini [ Download ]

Kamis, 14 Maret 2019

Undang-Undang Perlindungan Guru dan Pegawai Pendidikan

Ternyata menjadi guru tidak selamanya disanjung dan menjadi 'pahlawan tanpa tanda jasa', oemar bakrie itu juga rentan terhadap perlakuan yang tidak baik, gangguan, hingga pelecehan berbentuk pemberian imbalan yang tidak wajar.

Atas dasar tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan aturan soal perlindungan terhadap guru dan pegawai pendidikan (GTK) dalam menjalankan tugas mulianya sebagai tenaga profesional yang mencerdaskan anak bangsa.

Peraturan yang melindungi profesi guru dan pegawai kependidikan dalam bertugas dituangkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 10 Tahun 2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK/GTK).

Peraturan ini sebagai jawaban dari semakin resahnya guru saat mengajar mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari siswa, orang tua dan masyarakat lainnya terhadap guru dan pegawai pendidikan.


Sebenarnya, sebelum ada Permendikbud 10/2017 pun, sudah ada perlindungan terhadap guru dan pegawai pendidik terutama dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 40 ayat (1), Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 39 ayat (1), Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 40 ayat (1) dan Pasal 42.

Namun, karena masih belum terlalu teknis, maka Kemdikbud kemudian menerbitkan Permdikbud 10/2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Yuk... sebelum kita memahami Permendikbud 10/2017 tentang Perlindungan GTK, kita simak sejenak pasal-pasal perlindungan terhadap guru dan tenaga kependidikan yang sudah dibahas diatas.

~ UU 20/2003 Sisdiknas Pasal 40 Ayat (1)
"Pendidik dan Tenaga Kependidikan berhak memperoleh :
a. penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai;
b. penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
c. pembinaan karir sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas;
d. perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual; dan
e. kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas"

~ UU 14/2005 GD Pasal 39 Ayat (1)
"Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Organisasi Profesi dan/atau Satuan Pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas"

~ PP 74/2008 Pasal 40 Ayat (1) dan Pasal 42
Pasal 40 ayat (1) "Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, Satuan Pendidikan, Organisasi Profesi Guru, dan/atau Masyarakat sesuai dengan kewenangannya masing-masing"

Pasal 42 "Guru memperoleh perlindungan dalam melaksanakan hak atas kekayaan intelektual sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan"
Dalam aturan, guru dan pegawai pendidikan harus terlindungi dari berbagai masalah, seperti berbentuk tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi dan perlakuan tidak adil baik yang berasal dari siswa, orang tua siswa, birokrasi, masyarakat, atau pihak lain saat melaksanakan tugas sebagai tenaga profesional.

Beberapa hal yang menjadi perhatian aturan ini diantaranya:
  1. pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang;
  2. pemberian imbalan yang tidak wajar;
  3. pembatasan dalam menyampaikan pandangan;
  4. pelecehan terhadap profesi; dan
  5. pembatasan atau pelarangan guru yang dapat menghambat tugasnya sebagai pendidik. 
Yang menarik, ada ternyata guru dan tenaga pendidik bisa menuntut haknya agar di gaji sesuai dengan imbalan yang wajar. Kira-kira kalau gaji guru cuma Rp. 300 ribu sampai dengan Rp. 1,5 juta per bulan wajar ga sih, padahal mereka lulusan sarjana (S1) lo..., terus nuntutnya ke siapa ya ... hehehe
Padahal, idealnya seorang guru itu minimal berpenghasilan diatas UMR-lah, atau kira-kira antara Rp. 4,5 juta hingga Rp. 8 juta per bulan, sanggup ga ya Pemerintah memenuhi aturan yang dibuatnya sendiri.

Selain perlindungan dalam bentuk diatas tersebut, perlindungan dan keselamatan serta kesehatan kerja juga diatur dalam permendikbud ini, misalnya soal gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan resiko lain.

Nah, yang ini belum semua mendapatkannya, semisal BPJS Kesehatan itu lo, khusus untuk guru honorer belum terealisasi kan ...

Nah, biar tidak semakin penasaran, baca sendiri Permendikbud 10/2017 secara lengkap dibawah ini :

Permendikbud No 10 Tahun 2017, Perlindungan Bagi Guru 

 

Hari Tunas Kelapa 2019 MIMA Tapos 2

Tanggal 09 maret ditetapkan sebagai hari tunas kelapa sejak tahun 1961. Tunas kelapa disepakati menjadi lambang pramuka sejak 09 Maret 1961 sedangkan tunas kelapa digunakan sebagai lambang pramuka pada 14 agustus 1961.

Tetapi tunas kelapa di sahkan sebagai lambang gerakan pramuka pada tanggal 31 Januari 1972 yang disahkan langsung oleh KWARNAS dengan surat keputusan No.06/KN/72.

                                                                                     
            Pramuka menggunakan tunas kelapa sebagai lambang gerakan karena tunas kelapa mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Pohon kelapa merupakan pohon serba guna dari akar hingga ujung daunya. Hal ini melambangkan bahwa setiap anggota Pramuka adalah manusia yang serba guna bagi bangsa, negara, orangtua dan umat manusia.
Pohon kelapa dapat tumbuh dimana saja begitu juga dengan anggota pramuka yang bisa beradaptasi dengan siapa dan dimana saja. Akar kelaa mengisnpirasi penemuan teknologi penyangga bagunan Cakar Ayam. Kayu dari batangnya yang disebut kayu glugu, dipakai orag sebagai kayu degan mutu menengah dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.

         Daunya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa atau janur dibagai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik. tangkai daun atau lidi dihimpun menajdi satu menjadi sapu. Tandan bunga atau mayang dipakai oraang untuk hiasan upacara perkawinan dengan simbol tertentu.

Selasa, 15 Januari 2019

Sejarah MIS Mathlaul Anwar Tapos 2




Keberadaan Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Kabupaten Bogor pada awal tahun 1957,  pada masa awal berdiri sekolah ini sangat tidak diperhitungkan terutama karena kondisi lingkungan yang terpencil dikelilingi persawahan berada dalam lingkungan kumuh serta ditambah sarana transportasi yang teramat sulit. Seiring perkembangan waktu sekolah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sejak tahun 1991  Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar merupakan salah satu sekolah yang diunggulkan sebagai Sekolah Berbudaya Lingkungan dan Agamis, sehingga menjadi salah satu sekolah yang sangat diminati masyarakat terutama masyarakat sekitar, berdasarkan kondisi masyarakat sekitar disimpulkan bahwa tingkat ekonomi berada pada taraf menengah ke bawah dengan tingkat kesadaran rendah untuk melanjutkan sekolah.

Sejalan dengan perkembangan pendidikan di Indonesia kualitatif maupun kuantitatif mengalami perkembangan secara cepat.  oleh karena itu, perkembangan tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Pendidikan sistem persekolahan saat ini kebanyakan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-book. Oleh karena itu, Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos II merintis untuk mengembangkan mutu pendidikan sehingga dapat meluluskan siswa yang berkualitas, perkembangan pendidikan yang dilaksanakan mengacu pada perkembangan teknologi informasi yaitu proses pembelajaran yang akan menghasilkan tenaga pengajar dan peserta didik yang berkualitas. Guru bukan merupakan satu-satunya sumber pengetahuan, guru hanya sebagai fasilitator dalam mengajar, guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan guru akan aktif untuk mengkaitkan kurikulum dengan lingkungan yang dihadapi siswa, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, dan untuk mendukung hal tersebut diperlukan prasarana pembelajaran yang mendukung, yaitu dengan disediakannya fasilitas teknologi informasi untuk mengikuti perkembangan zaman, khususnya pada masalah pendidikan dan pengajaran.
Pendidikan saat ini belum semuanya terwujud dalam upaya peningkatan mutu, di segala bidang, karena terhambat pada akses pemerataan pendidikan untuk Wajar dikdas 9 tahun  dan kesiapan fisik sekolah, seperti ruang kelas, ruang laboratorium (IPA, TIK, dan Bahasa) ruang praktik (Keterampilan, Penjaskes, Kesenian, dan mata pelajaran lainnya), ruang guru, ruang perpustakaan, ruang pertemuan dan ruangan lain yang kurang memadai atau bahkan belum ada. Untuk sarana pembelajaran seperti media dan sumber pembelajaran, buku, alat-alat praktik mata pelajaran (penjaskes, TIK, Seni Budaya, Keterampilan, IPA, Bahasa Inggris) belum semuanya memadai, bahkan ada yang belum, akibatnya berdampak pada rendahnya mutu layanan pendidikan.
Sekolah gratis, berdampak pada upaya sekolah untuk peningkatan mutu pendidikan, terutama dalam mendukung pembiayaan pendidikan. Walaupun pemerintah telah menyalurkan berbagai dana untuk menunjang proses pendidikan, seperti BOS, Bantuan Siswa Miskin (BSM), dan sebagainya. Semua itu belum memenuhi standar ideal  pembiayaan pendidikan di sekolah. Agar  peningkatan mutu sekolah dapat terwujud selain didukung oleh kesiapan Guru, Tenaga Kependidikan, sarana-prasarana, juga harus didukung kesiapan pembiayaan yang memadai. Untuk menjembatani kesenjangan ini diperlukan kerjasama dengan semua pihak, terutama peranan dan  fungsi Komite Sekolah.
Untuk mewujudkan akses pendidikan, relevansi dan mutu, diperlukan manajemen sekolah yang sehat, efisien, transparan dan akuntabel harus mendapat dukungan oleh semua warga sekolah dengan berperan aktif dan dinamis dalam semua kegiatan sekolah, sehingga terwujud sekolah yang kondusif dan bermutu tinggi yang berstandar nasional. Masih rendahnya standar kelulusan siswa, terutama dalam  penentuan standar ketuntasan belajar setiap kompetensi dasar dari tiap mata pelajaran merupakan hal yang problematik.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan sasaran sentral yang harus dibenahi adalah kualitas pendidikan guru berbagai usaha telah dilaksanakan dengan pembaharuan pendidikan dan saat ini Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos II akan menambahkan dengan Teknologi Informasi, karena proses globalisasi merupakan keharusan sejarah yang tidak mungkin dihindari dengan segala berkah dan mudhoratnya. Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan sebagian besar ditentukan oleh proses belajar mengajar di kelas, dalam hal ini guru sangat memegang peranan penting yang mana guru adalah kreator proses belajar mengajar.
Tugas utama guru adalah mengembangkan potensi siswa secara maksimal lewat penyajian materi mata pelajaran yang jelas, memiliki  nilai dan karakteristik yang mendasarinya. Guru harus dilatih dengan berbagai metode dan perilaku mengajar yang dianggap canggih dan inovatif,  karena dengan perkembangan ilmu pengetauan yang berkaitan dengan kemajuan teknologi proses mengajar menjadi sesuatu kegiatan yang semakin bervariasi, kompleks, dan rumit.  Hal terpenting  adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas guru serta memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang akan berimbas dengan sendirinya pada kualitas siswa.

Minggu, 18 Maret 2018

Madrasah Hebat Dan Bermartabat

Hebat tidak hanya tercermin dari bangunan fisik saja melainkan juga hebat pada siswa dan lulusan madrasah, hebat dalam gurunya mengajar, hebat dalam menyalurkan ilmunya ke masyarakat, hebat prestasi, hebat kualitas siswa serta hebat dalam tata kelola kelembagaan.

Hebat memiliki indikator pada peningkatan kualitas madrasah, baik pada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang semakin profesional, serta kualitas siswa yang berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Sedangkan martabat identik dengan pembangunan karakter peserta didik guna menghasilkan siswa yang berakhlakul karimah.

Makna Madrasah Hebat Bermartabat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hebat merupakan bentuk adjektiva (kata yang menjelaskan nomina atau pronomina) yang memiliki arti terlampau, amat sangat (dahsyat, ramai, kuat, seru, bagus, menakutkan, dan sebagainya). Sedangkan bermartabat merupakan bentuk kata kerja dari martabat yang berarti memiliki tingkat harkat kemanusiaan atau harga diri.

Menurut Direktur KSKK Madrasah Ditjen Pendis Kemenag, A. Umar, MA, hebat tidak hanya tercermin dari bangunan fisik saja melainkan juga hebat pada siswa dan lulusan madrasah, hebat dalam gurunya mengajar, hebat dalam menyalurkan ilmunya ke masyarakat, hebat prestasi, hebat kualitas siswa serta hebat dalam tata kelola kelembagaan.

Hebat memiliki indikator pada peningkatan kualitas madrasah, baik pada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang semakin profesional, serta kualitas siswa yang berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Sedangkan martabat identik dengan pembangunan karakter peserta didik guna menghasilkan siswa yang berakhlakul karimah.

Madrasah Hebat Bermartabat berarti pencapaian kualitas terbaik kesemua komponen madrasah dengan menggunakan cara yang jujur, berakhlakul karimah, dan sesuai dengan norma keislaman. Hal ini pun erat kaitannya dengan 5 prinsip kerja, yaitu kerja keras, kerja tuntas, kerja cerdas, kerja berkualitas dan kerja ikhlas.

Dengan moto baru, Madrasah Hebat Bermartabat, semoga semakin meningkatkan semangat warga madrasah dalam menciptakan lembaga pendidikan yang hebat, berkualitas, namun tetap menjunjung tinggi kejujuran dan akhlakul karimah. 

https://ayomadrasah.blogspot.co.id/…/madrasah-hebat-bermart…
#ayomadrasah
#madrasahhebatbermartabat
#madrasahlebihbaik  
#kemenag  
#madrasah
#madrasahkukeren

Sabtu, 17 Maret 2018

Memupuk Keunggulan Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos 2

Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos 2 yang terletak di kawasan Desa Tapos 2 Tenjolaya Bogor Jawa Barat merupakan wadah atau tempat belajar ilmu-ilmu ke Islaman dan ilmu pengetahuan ke ahlian lainnya. Madrasah ini juga merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki kiprah panjang dalam dunia pendidikan di Desa Tapos 2 ini.

Diakui, kalau menimba ilmu pendidikan di SD sangat berbeda dengan madrasah ibtidaiyah (MI), yakni terletak di mata pelajaran. Kalau di madrasah di bidang agama ada 5 mata pelajaran yaitu Aqidah Akhlaq, Qur’an Hadist, Fikih, Sejarah Kebudayaan Indonesia (SKI), dan Bahasa Arab. Ke 5 mata pelejaran tersebut masuk dalam ujian nasional. Kemudian pendidikan di sekolah madrasah lebih ditekankan pada akhlaqnya atau perilaku siswa. Sementara itu jumlah mata pelajaran seperti di Madrasah Mathlaul Anwar Tapos 2 sebanyak 16 mata pelajaran.

Aang Abdul Hakim, A. Md. Salah seorang guru pengajar di sekolah tersebut menjelaskan, mata pelajaran Akhlaq sangat berkesinambungan dengan Hadist, Fikih dan Sejarah Kebudayaan Islam di luar mata pelajaran bahasa Arab. Kemudian untuk prakteknya semua siswa harus bisa Hafalan Hadist, Sholat, Baca Ayat Suci Al-Qur’an, dan percakapan dengan menggunakan Bahasa Arab.

Selain itu juga kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap hari adalah melaksanakan sholat berjamaah Dzuhur dan Ashar sekali-kali menjalankan sholat Dhuha.

Bagaimana dengan eskulnya? Menurut Aang Abdul Hakim, A. Md, kegiatan eskulnya seperti Pramuka, Nasid, Rabana bahkan pernah meraih berbagai prestasi, juara 2,3 dibidang kesenian Nasid, Cerdas cermat juara 2, juara 2 tenis meja putra, puitisasi dan juara rabana masih banyak lagi prestasi sekolah yang pernah di hasilkan.

Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos 2 yang sekarang dipimpin Ibu Nengsih, S.Pd. nampaknya terus melakukan berbagai pembenahan, terutama pembenahan bangunan gedung sekolah.

Ibu Nengsih, S.Pd. sangat berharap kepada Departemen Kementrian Agama Kabupaten Bogor agar kiranya bisa membuka hati untuk memperhatiakan sarana dan prasarana di sekolah khususnya di Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos 2.


Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos 2 Punya Kelebihan Dibanding Sekolah Umum

Tahun pelajaran 2017/2018 dalam 3 bulan kedepan akan segera berakhir, lembaga-lembaga pendidikan pun mulai membuka pendaftaran untuk penerimaan peserta didik baru. Sehingga untuk mendapatkan minat dan simpati calon siswa, masing-masing lembaga pendidikanpun meluncurkan berbagai macam strategi sehingga persaingan untuk mendapatkan siswa sebanyak-banyaknyapun tetap terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun hal yang demikian merupakan hal yang wajar selama menggunakan cara-cara yang baik.

Terkait dengan menarik minat calon peserta didik baru, berbagai hal yang ditawarkan oleh masing-masing lembaga pendidikan nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi calon peserta didik sehingga masing-masing lembaga pendidikan dalam mempromosikan sekolahnya akan menawarkan berbagai kelebihan dan keunggulan yang dimiliki oleh sekolahnya, baik itu yang berkaitan dengan sarana-prasarana yang dimiliki, program-program yang diadakan, tenaga pendidik yang dimiliki, lulusan-lulusan yang persentasenya memuaskan, dan berbagai hal lainnya. Sehingga dengan hal tersebut, calon peserta didik akan memutuskan apakah mereka akan mendaftarkan diri di sekolah tersebut atau malah memilih sekolah yang lain yang mereka anggap lebih menarik, sehingga dengan demikian setiap lembaga pendidikan diharuskan untuk mempromosikan/mensosialisasikan keunggulan dari sekolahnya masing-masing jika ingin mendapatkan pendaftar yang banyak.

Nah,,, sekarang kita kembali ke topic semula tentang “Madrasah Punya Kelebihan Dibanding Sekolah Umum/ Mengapa Harus Sekolah di Madrasah?.” Jadi pada postingan ini tidak ada niat untuk mendiskreditkan sekolah-sekolah yang basiknya sekolah umum semisal SMA/SMK, SMP atau SD tapi ini hanya sekedar memberikan gambaran kenapa sih harus memilih sekolah agama?.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya antara sekolah agama seperti MI/MTs/MA tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan sekolah-sekolah umum mengingat semua sekolah memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun meskipun demikian, tetap saja, pasti ada hal-hal yang haya bias kita dapatkan di sekolah agama tapi tidak akan kita dapatkan di sekolah umum. Sebaliknya ada hal-hal yang hanya bias kita dapatkan di sekolah umum namun tidak bias kita rasakan di sekolah agama.

Mengapa harus memilih sekolah di Madrasah?

Jika kita melihat, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa untuk sekolah di madrasah, mengingat banyak sekali hal-hal yang kadang-kadang sekolah umum lebih unggul ketimbang sekolah agama (madrasah). Dari segi fasilitas, kadang sekolah agama fasilitasnya kurang lengkap, program kurikulernya sedikit, apalagi bagi madrasah-madrasah swasta, wahhhh…. Jauh banget dari harapan. Dari segi alumnus, alumnus madrasah juga kadang-kadang tidak memiliki keistimewaan, tidak semua yang sekolah di madrasah jadi kiayi, Ustadz, penceramah atau apalah namanya, yang penting jadi orang-orang yang faham masalah-masalah agama lah. Bahkan banyak juga alumnus madrasah yang jauh dari harapan sekolah agama itu sendiri, kadang alumnus madrasah ada yang jadi preman, ada yang malas sholat, tidak lancar baca Al-Qur’an, dan lain sebagainya yang tidak mencerminkan alumnus madrasah.Namun meskipun demikian tetap saja, Mengapa Harus Sekolah di Madrasah?.

Madrasah sebenarnya merupakan sekolah yang memiliki nilai Plus. Nilai plusnya apa? Paling tidak dari segi plusnya itu ada pada porsi untuk bidang studi yang mempelajari tentang agamanya lebih banyak, ada Qur’an hadits, Akidah Akhlak, Fikih, SKI, Bahasa Arab, dan lain sebagainya, bahkan jika madrasah itu ada di bawah naungan Pondok Pesantren, biasanya aka nada program Pesantrennya yang husus membahas kitab-kitab. Namun tetap saja, itu bukan jaminan bahwa dengan sekolah di madrasah mesti akan menjadi Ulama’.
Lantas mengapa harus sekolah di Madrasah?.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa setiap orang Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu. Tapi bukankah meski tidak sekolah di Madrasah sekalipun tetap juga namanya menuntut Ilmu?. Benar sekali, namun perlu diingat bahwa “’Ilmu” yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Ilmu agama. Karena dengan ilmu agama itulah kita akan mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana perintah dan larangan. Sehingga ilmu yang wajib untuk dituntut itu adalah ilmu agama terutama sekali hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban-kewajban dalam agama, seperti sholat, puasa, zakat, jihad, haji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Dan peluang untuk bisa mendapatkan ilmu agama yang lebih besar itu adalah ketika kita menuntutnya di sekolah-sekolah agama seperti madrasah mengingat porsi mata pelajaran agama di madrasah lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum. Sehingga jika sekiranya akan banyak ilmu syari’at yang akan tidak kita ketahui jika kita sekolah di sekolah umum mengingat porsi mata pelajaran agama yang sedikit dan baru bisa kita ketahui dengan sekolah di madrasah karena posi mata pelajaran agamanya lebih banyak, maka menuntut ilmu dan bersekolah di Madrasah itu hukumnya akan menjadi wajib. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah Ushul Fiqh dalam kitab Ta’limu Muta’allim yang menyatakan bahwa.

مايتوسل إلى إقامة الواجب فيكون وجبا

Apa saja yang mengantarkan untuk (terlaksananya) sesuatu yang wajib, maka jadilah ia wajib.
Maksudnya adalah sesuatu yang menjadi perantara yang menjadi syarat untuk bisa terlasksananya suatu kewajiban, maka sesuatu itu hukumnya akan menjadi wajib meskipun hukum sebelumnya sunnah. Misalnya, wudlu merupakan ibadah yang hokum asalnya adalah sunnah, sedangkan sholat 5 waktu merupakan ibadah yang hukumnya adalah wajib. Namun karena sholat tidak sah tanpa berwudlu, maka berwudlu hukumnya berubah menjadi wajib. Demikian juga hokum sekolah di madrasah itu mubah-mubah saja, namun jika dengan bersekolah di madrasah maka kita akan lebih memahami agama kita, maka sekolah di madrasah itu hukumnya wajib, karena madrasah itu menjadi washilah untuk bisa lebih memahami agama.

Bagaimana dengan output madrasah yang banyak juga yang tetap awam agama, yang masih malas, jarang bahkan tidak melaksanakan sholat 5 waktu, yang nakal, yang tidak manunjukkan prilaku Islami. Hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak sekolah di madrasah, karena tugas para pendidik di madrasah itu adalah berikhtiar untuk mendidik peserta didik agar menjadi lebih baik, baik pemahaman tentang ilmu agama maupun praktik nyata dari ilmu agama itu. Adapun mengenai hasil, itu hanya tergantung pada Allah sebagai penentunya. Jadi Output yang tidak mencerminkan alumnus Pondok Pesantren/Madrasah, bukanlah alas an untuk tidak bersekolah di Madrasah.

Demikian juga bagi orang tua, wajib bagi mereka untuk memberikan pendidikan agama bagi anak-anaknya, karena itu merupakan salah satu bentuk pengamalan dari ayat

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)

Dengan memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya, maka orang tua telah memiliki usaha untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka, karena tentu sekali jika anaknya telah mampu memahami ilmu agama dan mengamalkannya, maka anaknya akan terjaga dari api neraka dan orang tua tersebut juga telah menjaga dirinya karena dengan anaknya yang telah memahami ilmu agama, maka anaknya itu akan tetap mendo’akan orang tuanya sebagai bentuk implementasi dari ilmu agama yang telah difahaminya itu. Wallohu A’lam.



 Sumber: http://balon4shared.blogspot.co.id


Keuntungan Menyekolahkan Anak Di Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Tapos 2

Pendidikan di Indonesia pada umumnya jika dilihat secara global terbagi menjadi dua, sekolah umum dan sekolah madrasah. Perbedaan sekolah umum dan sekolah madrasah letaknya pada mata pelajaran agamnya. Jika sekolah madrasah atau yang berciri khas agama Islam, pelajaran agamanya lebih diperluas lagi. Berbeda dengan sekolah umum seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Jika dilihat dari kelebihan mata pelajarannya maka banyak keuntungannya jika kita menyekolahkan anak di sekolah yang berciri khas agama Islam seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.

Siswa berprestasi MIS. Mathlaul Anwar Tapos 2 tingkat Kecamatan dan Kabupaten
Sebagai orangtua atau wali siswa, kita harus pandai dan cerdas dalam memilih sekolah untuk anaknya. Disarankan agar menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mempunyai nilai lebih dalam mata pelajarannya. Terutama nilai lebih ini merupakan pelajaran agama Islam yang diwajibkan. Jika ilmu dasarnya sangat kuat, terutama ilmu agama, maka saya yakin ketika besar nanti tidak akan terlalu dipusingkan dengan pemahaman ilmu agama.

Kenapa Harus Menyekolahkan Anak di Madrasah?

Tujuan diselenggarakan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk manusia yang beriman kepada Allah SWT. Selain itu diharapkan kedepannya mampu berbudi pekerti, mempunyai pengetahuan umum dan tentunya pengetahuan agama yang mantap. Jika semua itu tercapai, maka akan tercipta sebuah kepribadian yang kuat demi memperkuat pondasi kehidupan di masyarakat dan bangsanya.

Untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, maka hanya sekolah yang berciri khas agama Islam seperti Madrasah yang dapat menyajikan dengan  lengkap pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Sedangkan Madrasah adalah sekolah umum dimana penyelenggaraannya di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Peranan madrasah sangat dirasakan banyak manfa’atnya dalam membantu mendidik serta mengembangkan anak bangsa.

Selain pengetahuan umum yang diajarkan di Madrasah, pengetahuan agama juga sangat diprioritaskan. Buktinya di Madrasah untuk pelajaran agama terdiri dari lima mata pelajaran, seperti:
  • Pelajaran Al-Qur’an Hadits. Mempelajari ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits yang terdiri dari belajar cara membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar, hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, hafalan Al-Hadits, dan sebagainya;
  • Pelajaran Akidah Akhlak. Pelajaran ini mempelajari tentang ilmu akidah dan akhlak sehari-hari, seperti bagaimana cara menghormati kedua orangtua, belajar kalimat-kalimat thoyyibah, hafalan asmaul husna, dan masih banyak lagi;
  • Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Pelajaran SKI khusus mempelajari kisah-kisah perkembangan agama Islam jaman dahulu untuk diambil hikmahnya sebagai contoh yang bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari;
  • Pelajaran Fiqih. Ilmu Fiqih khusus mempelajari tentang cara-cara ilmu agama seperti, bagaimana cara sholat yang benar menurut aturan sebenarnya, cara memberikan zakat, cara melaksanakan tayamum, dan lain sebagainya;
  • Pelajaran Bahasa Arab. Ini adalah pelajaran agama terakhir di sekolah yang berciri khas agama Islam seperti Madrasah. Siswa dituntut untuk mempelajari bahasa Arab dengan benar. Mulai dari cara menulis huruf Arab, membaca huruf Arab, kosakata bahasa Arab, serta belajar membuat kalimat bahasa Arab.
Jika di sekolah umum semua pelajaran agama diatas disatukan menjadi satu materi atau pembelajaran. Dengan begitu tentunya pembahasannya juga tidak akan serinci dan selengkap seperti pendidikan di Madrasah. Jadi jelas lebih menguntungkan sekolah di Madrasah daripada di sekolah umum.

Ayo sekolahkan putra/putri Bapak/Ibu di Madrasah sekarang juga.

Sumber: info-menarik.net

 
bloging tips